Pages - Menu

Selasa, 29 Mei 2012

TANAH PEJUANG YANG TERLUPAKAN


PENDAHULUAN

Aceh terletak di ujung utara pulau sumatra dan paling barat kepulauan Nusantara. Jauh sebelum kedatangan kolonialisme Eropa ke Asia Tenggara, Aceh sudah diakui sebagai negeri yang berdaulat di Internasional. Aceh menjadi kerajaan yang kuat selama beberapa abad, dan memiliki pengaruh budaya dan tradisi Melayu yang tersebar dari Sumatera hingga ke Semenanjung Malaya. Letak yang sangat strategis serta tanah yang sangat subur ini lah yang menjadi salah satu faktor pendukung kegemilangan dan kejayaan Aceh pada masa dahulu. Serta tidak terlepas pula dari campur tangan para pemimpin aceh terdahulu yang sangat cakap dalam memerintah sehingga Aceh menjadi sebuah kerajaan yang mempunyai peranan cukup penting di Nusantara maupun di dunia Internasional baik peranannya dalam perdagangan, politik maupun yang termasuk kedalam penyebaran agama Islam. Salah satu pemimpin atau Sultan yang mempunyai peranan yang sangat besar dalam perkembangan Aceh adalah Sultan Iskandar muda yang pada masa pemerintahannya lah Aceh mengalami puncak kejayaannya.

Jumat, 06 Januari 2012

Belanda Saja Tak Mampu "Taklukan" Aceh


Aceh Daerah
 Modal Republik Indonesia

Pada awal kemerdekaan telah diperkirakan bahwa suatu saat Belanda akan memasuki kembali Aceh setelah daerah-daerah di Indonesia berhasil dikuasai dan ditundukan. Pemikiran ini didasarkan pada Daud Beureueh berupaya melanjutkan apa yang dirintis oleh pimpinan Aceh sebelumnya. Teuku Nyak Arief, untuk menciptakan situasi dan kondisi yang mandiri dalam perrsenjataan dan ekonomi. Tujuannya adalah agar Aceh mampu menggela perang gerilya dalam jangka panjang. Yang paling ideal untuk bergerilya adalah daerah segi tiga dataran tinggi pegunungan “Tangse-Gayo-Bakongan” dengan latar belakang Gunung Leuser yang angker dan misterius.
Untuk persiapan tersebut tidak kurang dari lima buah pabrik senjata terdapat di daerah Aceh pada masa Perang Kemerdekaan. Walaupun sederhana, pabrik tersebut mampu memproduksi senjata api dan berbagai suku cadang perlengkapan senjata api dan meriam penangkis udara. Kelima pabrik senjata itu itu terletak di (1) Peureulak, Aceh Timur; (2) Kota Bakti, Aceh Pidie; (3) Lhok nga, Aceh Besar; (4)Redelong, Takengon, Aceh Tengah; (5) Macan Kumbang, Aceh Tenggara.
Pembangunan pabrik senjata ini memang sudah menajdi program pimpinan pada saat itu, yaitu gubernur Milite Aceh, Langkat dan Tanah Karo, Jenderal Mayor Teungku Mohammad Daud Beureueh. Pengembangan kelima pabrik senjata diprioritaskan sesuai dengan kebutuhan. Untuk itu tenag-tenaga terampil dididik dan dilatih seperlunya. Sasaran utama adalah untuk menciptakan pabrik senjata yang modern dan mampu memenuhi kebutuhan militer.
Tidak terlalu sulit mencapai sasaran tersebut karena barter Aceh dengan Penang, Kuala Lumpur, dan Singapura tetap lancer. Berbagai alat perlengkapan mesin modern dapat dipenuhi, sehingga kilang senjata itu dapat berfungsi dengan baik dan dapat emmenuhi permintaan. Oleh karena itu, meskipun Belanda melakukan blockade total dilaut, udara, dan darat, tapi perairan Aceh dan Selat Malaka tetap ramai dilalui pelaut kita dan asing. Sehingga jalur perdagangan Aceh tetap hidup dan bebas tanpa mendapat gangguan Belanda.
Kesadaran bahwa suatu saat Belanda akan kembali menyerang Aceh menyebabkan para tokoh kita memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk membangun ketahanan nasional Republik Indonesia di daerah Aceh. Kesiapan Aceh dalam semua bidang dirampungkan.
Usaha tersebut didukung dengan barter yang dilancarkan secara gencar pada masa perang kemerdekaan dengana Singapore  dan Penang, yang dikoordinir oleh Mayor Osman Adami (OA) pimpinan Aceh Traiding Company, cabang CTC (Central Trading Company) di Aceh. Barang-barang barter Itu diangkut dengan kapal Speed boat PPB 58 LB sumbangan CTC kepada Angkatan Laut RI. Di bawah komando Mayor (Laut) John Lie, menembus blockade laut Belanda.
Berdasarkan pengamatan tentara Inggris / NICA, senjata jepang yang direbut oleh pejuang Indonesiasampai akhir tahun 1945 diperkirakan dapat mempersenjatai empat divisi tentara. Tiga divisi senjata jatuh ke tangan pejuang di Jawa. Masing-masing satu divisi untuk Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Jumlah penduduk Jawa pada tahun 1945 diperkirakan sekitar 45 juta jiwa.
Satu divisi lagi terhampar disepanjang hutan belantara di pulau Sumatera, yang jumlah penduduknya masih berkisar tujuh juta jiwa. Dari jumlah senjata satu divisi yang ada, diperkirakan oleh sekutu bahwa setengahnya berada di daerah Aceh, karena daerah ini di mata Jepang sangat potensial untuk menangkis serangan sekutu  bila dating dari bagian Utara.
Satu resimen senjata diperkirakan berada di Sumatera Timur dan Tapanuli. Setengah resimen senjata di Sumatera Barat dan satu resimen senjata lagi di Sumatera Selatan.
Catatan jumlah senjata tesebut belum termasuk senjata selundupan yang menyusup ke Aceh (barter) lewat Penang, Kuala Lumpur, serta Singapura dan senjata buatan sendiri oleh para pjuang di daerah Republik.
Republik Indonesia tetap saja survive, padahal Belanda sudah dua kali melancarkan Agresi Militer yaitu pada tanggal 21 juli 1947 dan 19 Desember  1948. Karena itu Aceh disebut “Daerah Modal”, yang berarti”daerah untuk meneruskan cita-cita perjuangan kemerdekaan yang sedang dalam ancaman penjajah”.
Pernyataan tersebut, seperti telah diungkapkan sebelumnya, disampaikan oleh Presiden RI pertama, Bung Karno, pada tangaal 16 Juni 1948 dalam rapat raksasa di Blang Padang, Banda Aceh sewaktu Beliau  dan rombongan datang secara khusus ke Aceh. Republik Indonesia waktu itu sedang dikepung oleh “Negara-negara boneka” aal van Mook, blokade Belanda dari darat, laut dan udara – kecuali daratan Aceh satu-satunya wilayah yang masih utuh dan murni sebagai Republikein.
Dalam kesempatan tersebut Bung karno menjelaskan gawatnya situasi tanah air dan Aceh yang masih bisa mempertahankan daerah-daerahnya dari penjajahan diharapkan dapat tampil menolong mengatasi situasi darurat yang mengancam Nusantara.
Dukungan untuk tetap mempertahankan kemedekaan Indonesia sangat diharapkan dari seluruh rajyat Indonesia. Aceh yang menjadi “daerah modal”, karena berhasil mempertahankan wilayahnya terbebas dari penjajah Belanda pada masa perang kemerdekaan, menjadi salah satu harapan Republik.
Harapan pada Aceh juga disampaikan oleh Presden RI, Bung Karno. Ketika berbicara di depan rakyat Aceh, dalam kunjungan di Aceh Hotel, pertengahan Juni 1948, Bung Karno minta kepada masyarakat memberikan dukungan moril maupun materil.
Ketika itu Bung Karno mengundang tokoh-tokoh pejuang dan  masyarakat  Pengusaha serta pemuda bertatap muka. Disitulah Bung Karno mencetuskan sebuah ide dan sekaligus menantang jiwa patriotism rakyat Aceh untuk meneruskan dan melestarikan perjuangan kemerdekaan. Bung Karno berkata “saya tidak makan mala mini, kalau dana untuk itu belum terkumpul”. Ucap Bung Karno seraya melempar senymnya yang khas.
Menghadapi tantangan tersebut, para hadirin saling melirik- siapa yang harus memulai. Tanggapan pertama ternyata datang sari saeorang pemuda berusia 30 tahun, bernama M. Djuned Joesoef. Ia adalah seorang pengusaha besar yang kebetulan menjabat sebagai ketua GASIDA (Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh). Langkah M. Djuned Joesoef itu diikuti oleh pengusaha lainnya, sehingga terkumpul dan cukup besar. Melihat hasil dana yang masuk, Bung Karno dengan senyum berseri mulai mengajak hadirin beranjak ke meja makan.
Dana sebesar 120.000 dollar Malaysia dan emas 20 kg sumbangan rakyat Aceh yang dikumpulkan pada saat itu cukup digunakan untuk membeli dua pesawat terbang jenis  Dakota”.didalamnya sudah termasuk sumbangan dari pemerintah daerah Aceh, yang diberikan oleh Residen Teuku Chik Mohammad Daudsyah dan mantan wakil Residen, teuku Mohammad Ali Panglima Polim.
Dari dana yang tersedia sebagian masih bisa dialokasikan untuk membiayai kegiatan duta-duta dan  kantor perwakilan RI di Luar negeri. Diantaranya Singapura, Penang, India, Manila, perwakilan di PBB, dan biaya duta keliling  H. Agus Salim ke Timur Tengah, serta biaya konferensi Asia di New Delhi , India.
Bung karno secara khusus memberi nama pesawat sumbangan rakyar Aceh itu “Seulawah RI-001”, sebagai penghormatan untuk masyarakat Aceh yang secara ikhlas dan tulus telah memberikan sumbangan yang berharga pada situasi sulit bangsa yang sedang berjuang. Pesawat pertama tiba di Tanah Air pada akhir oktober 1948, ketika Tanah Air sedang mengalami kepungan politik blokade ekonomi dan militer dari pihak Belanda.
Pesawat perintis yang menjadi kekuatan pertama armada TNI AU itu telah berjasa besar dalam menerobos blokade Belanda. Antara lain sebagai jembatan yang menghubungkan Pemerintah Pusat Yogyakarta dengan Pemerintah Dadurat di Sulikivdan Kutaraja.
Pesawat kedua sumbangan rakyat Aceh, “Dakota RI-002” tidak kalah dalam memberi sumbangan pada perjuangan Bangsa. Pesawat tersebut pernah menerbangkan Opsir Udara II, Budiarjo (Mantan Menteri Penerangan RI) dan Opsir Udara II, Muharto menuju Manila.
Sebenarnya pesawat pertama adalah pesawat yang diserahkan dari CTC kepada pemerintah. Tetapi karena pesawat itu jatuh baru diregistrasikan.
Setelah hijrah ke luar Aceh, Letkol. Teuku Hamid Azwar mendapat tugas baru sebagai Kepala staff SK2A (Intendans) Komandemen Sumatera. Penetapan sebagai kepala Staff SK2A komandemen Sumatera dilakukan oleh Letnan Jenderal Soehardjo Hardjowardojo selaku Panglimaa Komando tertinggi di Sumatera.
Dalam jabatannya tersebut Letkol Teuku Hamid Azwar besama dengan Letkol. Teuku M. Daud (Samalanga)dan Letkol H.A.  Thahir mendirikan CTC (Central Trading Cooperation)di Bukittinggi, sebagai pusat organisasi untuk mengusahakan perlengkapan bagi tentara di seluruh Sumatera.
CTC menyumbangkan sebuah pesawat, sebelum rakyat Aceh menyumbangkan pesawat “Seulanga RI-001” dan “Dakota RI-002” kepada Pemerintahan RI. Sumbangan CTC itu adalah pesawat terbang jenis “AVRO ANSON” dengan nomor registrasi yang diberikan kemudian : RI-003. Pesawat ini dibeli diThailand pada tahun 1947dengan pembayaran dalam bentuk emas murni, dan diterbangkan oleh Komodor Muda (Udara) A. Halim perdanakusumah dan Opsir (Udara)I, Iswahyudi yang sewaktu pulang ke Indonesia jatuh di Tanjung hantu, Malaysia.
Sumbanagan dari CTC ini diberikan sebelum CTC ditingkatkan sehingga terbentuk badan hukum dan menjadi perusahaan milik Negara, atas saran Bung Hatta.
Belanda hamper menguasai seluruh tanah air Indonesia. Tidak ada alterrnatif lain kecuali Aceh yang mampu mengerakkan perlawanan rakyat semesta mengusir kebli Belanda, yang telah membentuk Negara “boneka “di Jawa dan Sumatera dengan maksud mengeliminir Republik . rakyat Aceh harus bekerja sama dengan rakyat di seluruh bagian Republik Indonesia melalui perang gerilya sebagai bentuk perlawanan rakyat semesta guna mengusir penjajahan Belanda yang mulai becokol.
Presiden RI, Bung karno pun menginstruksikan sejumlah pimpinan dan kesatuan ABRI untuk meninggalkan Yogyakarta menuju Kutaraja. Selain karena Kota Yogyakarta dirasakan sudah tidak aman, dengan hijrah ke Aceh dimungkinkan untuk mempersiapkan gerakan rakyat dalam bentuk perlawanan rakyat semesta.
Sejumlah perwira senior dan pimpinan teras turut tinggal di Aceh sekaligus diserahi tugas memimpin militer untuk menyatukan langkah dan menyamaka npersepsi. Di antara mereka tedapat Kolonel Hidayat yang mendapat tugas sebagai Panglima Angkatan Darat se-Sumatera berkedudukan di Kutaraja, Aceh.
Telah lebih dulu berangkat ke Aceh, Kolonel R.M.S. Suryosularso beserta staaf, Kolonel Askari, Letnan Kolonel A. Kartawirana, Mayor Ibrahim Adjie, Letnan Kolonel Alex Kawilarang yang memimpin di Tapanuli dan Sumatera Utara bagian Selatan, Mayor  Akil Prawireja dari Riau dan sebagainya.
Dari angkatan laut yang mangkal di Kutaraja, di antaranya KSAL Kolonel Subiyaktoa, kapten Martadinata, Letnan Sudomo dan sejumlah pimpinan teras lainnya. Tidka ketinggalan, Mayor laut John Lie, seorang tokoh penyelundup” besar Asia Tenggara, yang mampu mengecoh blokade Angkatan laut Belanda di reairan Aceh-Malaysia.





daftar pustaka

Audrey R, Kahin. (1990), Pergolakan Dearah Pada Awal Kemerdekan, Jakarta : Penerbit Garfiti
Chaniago, J.R. Dkk (1989), Pemerintah Darurat Republik Indonesia, Jakarta: Arsip Nasional RI
Musda 45 Aceh (1960), Aceh Modal Revolusi , Banda Aceh : Penerbit Angkatan 45-an Aceh
Rasjid, SM.MR (1982), Sekitar PDRI, Jakarata : Penerbit Bulan Bintang
Unsyiah (1961), Bung Karno dan Rakyat Aceh, Kutaraja.